Aji Muhammad Parikesit (dilahirkan dengan nama Aji Kaget)
adalah Sultan Kutai
Kartanegara ke-20, memerintah dari tahun 1920 sampai 1960yang juga merupakan
sultan terakhir yang memimpin kesultanan sebelum wilayah Kesultanan Kutai resmi
masuk ke dalam wilayah Republik Indonesia dan
menjadi "Daerah Istimewa Kutai".
Biografi
Lahir dengan nama Aji Kaget ,
dari kecil beliau dididik oleh nininda beliau Aji Muhammad Sulaiman,
Sultan Kutai. Beliau masuk sekolah Belanda di Samarinda tahun 1905. Tahun 1909 beliau mendapat
gelar Adji Endje Renik. Tahun itu jugalah beliau masuk
sekolah Instituut Bos di Betawi. Tahun 1910 ayahnya wafat,
tetapi karena umur beliau ketika itu belum dewasa, maka Pemerintahan Kutai
dipegang oleh Dewan Perwalian yang dipimpin oleh Aji Pangeran Mangkunegoro.
Tahun 1911 beliau menempuh
ujian P.H.S. Dua Tahun sesudah itu beliau pindah ke sekolah Osvia di Serang. Pada tahun 1917 beliau kembali ke
Kutai, sebab Pangeran Mangkunegoro ingin mendidik beliau untuk memegang
pemerintahan dan untuk mengenali adat lembaga negeri. Tahun 1918 beliau diberi
gelar Pangeran Adipati Praboe Anoem Soeria Adi Ningrat.
Tanggal 14 Nopember 1920 beliau dinobatkan
menjadi sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Parikesit.
Untuk melanjutkan sekolah dan menambah luas pengetahuannya, pada tahun 1928
belliau dengan permaisuri pergi ke negeri Belanda. Dan ketika itulah Aji Muhammad
Parikesit dihadiahi gelar Officier der Orde van Oranje Nassau dariKerajaan Belanda.
Pemerintahan Kutai.
Sultan Adji Muhammad Parikesit dibantu oleh tiga
orang menteri yang memegang Pemerintahan kesultanan. Adapun seluruh daerah
kesultanan Kutai itu terbagi atas tiga onderafdeling, yaitu Kutai Barat, Kutai Timur dan Balikpapan. Ibu negeri yang pertama ialah Tenggarong, yang kedua Samarinda dan yang ketiga Balikpapan. Lalu ketiga onderafdeling itu terbagi lagi atas 17 buah district.
Menurut cacah jiwa tahun 1934, banyaknya penduduk kesultanan Kutai sekitar
106.559 jiwa, kecuali orang yang bekerja pada Maatschappij.
Selama Sultan Aji Muhammad Parikesit memerintah,
banyak sekali perubahan susunan Pemerintahan, sehingga pemerintahan pada zaman
beliau ini hampir tidak ada bedanya lagi dengan susunan Pemerintahan
Daerah Goebernemen. Pada tahun 1931 telah diadakan
sebuah persidangan yang bernama Hoofdenvergadering. Sekalian para
kepala onderafdeling, district dan onderdistrict yang
diundang untuk menghadiri rapat itu akan membicarakan soal-soal yang penting.
Yang memimpin rapat itu adalah Sultan Kutai dengan Asisten-Residen. Rapat itu
diadakan setiap 4 bulan sekali. Untuk mengadakan rapat itu telah didirikan
sebuah gedung yang besar dengan perabotan yang modern dan disana jugalah tempat
Sultan bekerja. Lalu, mulai pada tahun 1926 diadakan dua macam pengadilan,
yaitu: Kerapatan Besar dan Kerapatan Kecil. Kerapatan Besar terdapat di
Tenggarong dan Kerapatan Kecil terdapat di tiap-tiap district dan onderdistrict.
Turun tahta
Dua tahun setelah Indonesia merdeka tepatnya pada tahun 1947, Kesultanan Kutai beralih
status menjadi Daerah Swapraja Kutai dan
masuk ke dalam Federasi Kalimantan Timur/Daerah Siak Besar
bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir dengan membentuk
Dewan Kalimantan Timur yang diketuai oleh Sultan Aji Muhammad Parikesit. Sampai
pada tanggal 27 desember 1949, Federasi Kalimantan Timur bergabung dengan Republik
Indonesia Serikat.
Pada 21 Januari 1960 pemerintahan Kesultanan
Kutai Kartanegara yang dipimpin Sultan Aji Muhammad Parikesit, diserahkan
kepada pemerintah daerah melalui Sidang Khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai, yang
diselenggarakan di Balairung Keraton Sultan Kutai, Tenggarong. Sejak itu Sultan
Aji Muhammad Parikesit dan keluarganya hidup sebagai rakyat biasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar